24 March 2012

Cinta Idealisme atau Idealisme Cinta?

Beberapa waktu yang lalu, sudah lama banget sih, aku pernah mengutarakan tipe dan idealisme perempuan idamanku ke salah seorang sahabat. Semuanya kuceritakan dengan bangga, mulai dari ujung kaki hingga ujung kepala kuperjelas seperti apa perempuan idamanku: YA! INILAH YANG DISEBUT IDEALISME. Seneng? Banget! Indah? Banget! Terwujud? SUSAH! Kenapa? Sila jawab sendiri. :)

***


Semenjak 22 Juni 2010 itu, aku selalu kebingungan kalau harus hidup bergandengan dengan IDEALISME yang menjadi panutanku. Jujur, hidup berpanutan dengan IDEALISME itu enggak enak; memang sih enak kalau diimajinasikan, apalagi kalau terrealisasikan, serasa dunia milik berdua.
Tetapi kalau IDEALISME itu hanyalah sebuah panutan yang sulit untuk dicapai bahkan (mungkin) tidak bisa dicapai dan pada akhirnya hanya menjadi penyakit menahun? Sama saja dengan hidup dalam kekosongan dan menabur omong kosong yang berbuah KOSONG. Apa isi dalam kosong? Kosong. Ya, itulah buah dari idealisme yang menjadi panutanku. Sungguh, kala itu, aku terluka dan susah banget untuk sembuh. :(

Ngomong-ngomong, aku pernah menuliskan keluhanku kepada Tuhan pada secarik kertas merah muda, berikut isinya:

Ketika apa yang tiada dijadikan ada, lalu apa yang ada kembali kepada ketiadaan...
Masih adakah ketiadaan dalam hati ini? Ketiadaan akan ketepatan mencintai seseorang...
Ketika rindu memeluk jiwa...
Namun, rasa sayang ini tak tersampaikan kepada siapapun...
Aku merasa rentan segala jenis penyakit, Ya Tuhan...
Tanpa jiwa yang merindu manusia lain...
Aku hendak kembali pada-Mu saja...
Dengan tenang...

Aku belum tahu harus mencintai siapa!

Surabaya, 4 Februari 2012 - Arya Adikristya Nonoputra

Sudahlah, memang menjadi manusia itu ada susah-senang-suka, kita harus berani melakukan sebuah pengakuan (meskipun itu susah dan enggak menyenangkan), jangan menyembunyikan apa yang seharusnya kita tunjukkan kepada dunia. Akui saja kalau orang itu cantik, akui saja kalau orang itu ganteng, berhenti menutupi pengakuanmu yang sejati. BUKALAH SEBUKA-BUKANYA! Jangan sampai kamu menelan ludahmu sendiri.
Jangan terpaku oleh idealisme kita sendiri, mempunyai idealisme itu baik, dalam artian kita sudah bisa menentukan target kita sendiri, tetapi yang perlu ditekankan adalah SEBAIKNYA TIDAK TERPAKU OLEH IDEALISME. Yang perlu dilakukan hanyalah 1, nikmati, resapi, dan pelajari setiap titik dalam perjalanan menuju idealisme, maka kamu tahu apa yang seharusnya kamu lakukan dengan kehidupan cintamu itu. :)

Ketika seseorang membuatmu menyadari bahwa idealisme tak selamanya indah, itulah yang disebut CINTA.

Finally! I'm falling in love with someone who a million miles far far away from the idealism that I followed before. Glad? YES, of course!
Dear people who still hold their idealism firmly, you'll see in time. But, it's okay if you could reach your idealism happily. For example, a song from Maliq & D'essentials that titled "Dia" has a lot of meaning. One of them is about how good it is if the idealism could make your life brighter than before.
Oh, I almost forgot, and someone said, "In dreams and love there aren't impposibility..."
So, BE STRONG, SWEETY PEOPLE! :)

 Note: Don't ask me what kind of idealism that I followed before. :)

Sidoarjo, 24 Maret 2012

5 Arya Adikristya: Cinta Idealisme atau Idealisme Cinta? Beberapa waktu yang lalu, sudah lama banget sih, aku pernah mengutarakan tipe dan idealisme perempuan idamanku ke salah seorang sahabat. Sem...

8 comments:

  1. selamat bersenang-senang dengan cinta....

    ReplyDelete
  2. Ketika cinta tak memiliki idealisme, keindahaan adalah ketiadaan :)

    ReplyDelete
  3. Ketika seseorang membuatmu menyadari bahwa idealisme tak selamanya indah, itulah yang disebut CINTA.

    ReplyDelete
  4. kunjungan sob ..
    salam sukses selalu ..:)

    ReplyDelete
  5. Idealisme sesuatu yang harus di pertahankan karena itu adalah harga diri, jual idealisme demi cinta,mendingan gak usah ada idealisme.
    hidup harus penuh kriteria

    ReplyDelete

Thanks for your lovely comment!

< >