21 November 2011

Hollywood | Bollywood | Semerawood

 "Biar minimalis, yang penting optimis"

A:  "Dimana ada Hollywood, di situ ada Semerawood. Dimana ada Bollywood, di situ ada Semerawood. Dimana ada Semerawood, di situ ada semrawut.Sudahkah Anda merasa semrawut? Kalau belum, jangan coba-coba baca lanjutan tulisan ini! "
B:  "Kok mesti ada Semerawood terus sih? Kok bisa? Tulisan apa sih ini, kok awalnya enggak jelas begini? Aneh! Jadi semrawut kan! Argghh!" (sedang dalam kondisi semrawut nih!)

Jawaban: "Don't judge everything by the cover, baby..." - Arya Adikristya N. #adikristya



Oke, kalau kalian sudah merasakan ruangan hati dan pikiran yang semrawut, silahkan membaca tulisan ini.

Surabaya, 20 November 2011 lalu kami (Tim MADING SMATRAMA; terkhusus divisi 2D) merayakan kemenangan kami dengan menonjolkan kesederhanaan tetapi tetap memboyong keoptimisan sebagai bekal dalam ajang anak muda terbesar di Indonesia yaitu Deteksi-Convetion 2K11 yang diselenggarakan di Kota Surabaya.
Sekarang kembali kira-kira sebulan yang lalu. Kami belum mengenal satu sama lain. Kami belum mempunyai konsep pasti, gonta ganti konsep, cekcok sana sini, enggak ada arah yang jelas dan kami mulai frustasi.
Seiring dengan berjalannya waktu dan keadaan sekitar yang menyokong, selesailah masa-masa PRA PRODUKSI dari mading kami terkhusus divisi 2D.

Hollywood (Amerika) | Bollywood (India) | Semerawood (Indonesia)
Kenapa kami memilih 3 Industri film tersebut? Karena kami mempunyai pemikiran bahwa dengan pembahasan ini, kemajuan industri perfilman milik negeri tercinta menjadi semakin baik dari sebelumnya.
Mau tahu beberapa pokok isinya? Siap-siap semrawut aja ya...Hehe ;)

HOLLYWOOD

Hollywood lebih maju dari industri film Indonesia , Mengapa ?
Film Indonesia belum banyak dikenal di dunia seperti Hollywood . Apa yang membuat Indonesia masih terbelakang dalam hal industri film?
Dari segi cerita , Kebanyakan film Indonesia yang bagus adalah film yang diangkat dari novel . untuk dari segi cerita alur cerita film Indonesia selalu masih bisa ditebak dan belum bisa mengajak penonton untuk berpikir . hanya segelintir orang yang mengikuti film indonesia saja yang selalu  memahami benar benar makna yang disampaikan dalam film itu .
Ketika Sutradara Indonesia membuat film yang penontonnya dituntut untuk berpikir , malah yang terjadi hanya bertahan 1 minggu saja di bioskop (baca:tidak laris) , dan itu membuat sutradara dan produser tidak mau membuat film yang sejenis itu lagi . padahal film Hollywood yang beredar dan laris di dunia , adalah film yang alur cerita nya susah untuk ditebak dan menuntut penonton untuk berpikir .
Selain dari segi cerita , Efek efek visual juga menjadi point yang penting dalam sebuah film . dan ini nilai jual yang belum dimiliki oleh film indonesia . Hollywood mempunyai  fasilitas studio yang memadahi dan orang yang mempunyai skill spesialis untuk membuat efek efek yang membuat orang terkagum .  Tapi jangan salah , ada orang Indonesia yang juga bekerja di hollywood sebagai pembuat animasi . Mungkin tenaga dia disana lebih dibayar mahal dari pada di Indonesia makadari itu ia bekerja disana .
Dan Budget pembuatan 1 Produksi film di hollywood bisa mencapai 50 – 100 juta US dolar , sedangkan di Indonesia ? , mana ada produser yang mau mendanai sebegitu mahalnya .  memang benar bila dengan dana yang murah tidak mungkinlah ada suatu film yang bagus itu muncul , pasti dibutuhkan dana yang sangat mahal.
Di Amerika sendiri warganya sangat menghargai dan suka karya dari bangsanya sendiri , itu adalah kunci sukses utama dari hollywood . Andai saja warga Indonesia mau untuk menghargai film produksinya dulu dan film indonesia laris di pasaran . maka industri film indonesia akan semakin maju dan bisa Go Internasional .


by: Ronald Argand Pinontoan (Ketua Tim Mading Divisi 2D)


 BOLLYWOOD


 Dan pada akhirnya, Bollywood bisa menjadi lebih menggairahkan seperti sekarang berkat kekuatan global dari “Jawara Layar Lebar”. Kok bisa det?
Kesan kebanyakan orang waktu pertama kali bersua dengan Bollywood ya aneh pastinya dan belum menemukan gairah menonton Bollywood. Bahkan nggak sedikit dari orang-orang penikmat film sudah ‘termindset’ bahwa Bollywood emang layak diberi predikat nol karena saking anehnya sehingga sulit diterima masyarakat global, terutama di luar India.
“Sebuah film harus bisa membuat penonton menjadi bergairah”. Bergairah untuk apa? Ya, terserah pribadi masing-masing sih mau bergairah untuk apa, cemacemnya kayak gimana, posisinya seperti apa. #eh

Mau nggak mau tapi realitanya mau, Bollywood kudu bisa belajar banyak hal serta menyerap keunggulan dari Hollywood untuk mengembangkan produksi film dalam negeri (dimaksud: India).
Sedikit curhat ya, yang saya suka dari Bollywood adalah mereka bisa mengemas budaya Hollywood dengan budayanya sendiri menjadi satu dan bisa membuat Bollywood mulai naik daun di mata global.
Pendapat di atas sejenis teori polytheisme-lah, cuma beda konteks aja.
Yang lebih menarik untuk digairahi adalah, keberadaan bumbu-bumbu khas India tetap mendominasi Bollywood walau badai Hollywood menghadang dengan lembut. Biasanya yang mereka ‘colong’ itu seni pembuatan alur cerita, efek-efek animasi dasar hingga menengah, dan skenario film yang menuntut orang untuk berpikir lebih jauh ke depan (walaupun ternyata nggak perlu jauh-jauh mikirnya, hehe).

Awalnya, Bollyvood masih kental dengan kisah asmara pemudi-pemuda yang tak direstui (walau akhirnya SELALU direstui), tapi sekarang coba kalian tengok pelan-pelan, apakah kalian melihat perbedaannya sekarang?
WOW! BOLLYWOOD SEMAKIN MENGGAIRAHKAN SEKARANG! AHHH!
Tak hayal sih kalau beberapa film India yang mengalami polytheisme mulai menggusur jajaran film Amerika yang kalah saing seperti: 3 Idiots, My Name Is Khan, dan cemacem-macem.
Sudah selayaknya Bollywood berterima kasih dengan Hollywood yang sudah membesarkan namanya hingga sekarang ini. Standing applause deh!
by: Arya Adikristya Nonoputra (Anggota Tim Mading divisi 2D)

SEMERAWOOD...???
Semerawood itu semrawut! Semrawut itu Semerawood! Apa sih Semerawood itu? Makin dibahas, makin semrawut lho. Kok bisa Det? Yuk, bersemrawut ria! CekiDet!

Semerawood (baca: Semrawhut | makna: Semrawut/acak-acakan ) ialah sebutan dari kami untuk produksi film layar lebar milik negeri kita tercinta: Indonesia.
Kenapa harus berarti ‘Semrawut’ sih? Kalo kalian benar-benar orang Indonesia pasti tahu alasannya kenapa.

Asli! Semrawood itu bikin saya sebel. Pasalnya, saya sendiri bingung mau mengkategorikan Semerawood dalam predikat apa, yang jelas dan pasti, semua itu punya plus-minus dalamnya. Meskipun semrawutnya minta ampun, tapi Semerawood ini punya sisi positif yang dapat dipertimbangkan buat dicontoh lho.

Semerawood Plus-Plus:
·         Semerawood lebih bisa menggairahkan penonton ‘secara fisik’ ketimbang Bollywood.
·         Film Horor Indonesia lebih menakutkan daripada film Horor Amerika maupun India.
·         Efek-efek lebay binti memaksa yang lebih unggul dari film manapun.
·         Novelis Indonesia seringkali menjadi pahlawan dalam perkembangan menjadikan Semerawood yang enggak semrawut.

“You get what you pay” – Kartun Benny & Mice

Cocok sekali kalo Semerawood itu dibilang kaya kekurangan (atau malah kekurangan dalam kekayaan?) Semrawut nggak Det?

Membahas kekurangan dari Semerawood memang nggak ada habisnya. Dari satu kekurangan tumbuh seribu, dari seribu tumbuh menjadi berjuta-juta kekurangan yang abadi. #lebay

Semerawood Minus-Minus:                                                                           
·         Keterbatasan dana (atau uangnya ‘dimakan’ sendiri?) membuat film dengan efek-efek visual yang apik binti mempesona.
·         Alur cerita yang monoton dan mudah ditebak bikin penonton berpaling sama Hollywood dan Bollywood.
·         Jago menyadur konsep dan karakter film; Jago pula menyamarkan sadurannya (walau akhirnya sering ketahuan). Hehe.
·         Film horor Indonesia bisa bikin orang tumpul dalam berlogika dan beragama.
·         Mereka para produsen selalu berkelit dengan masalah kebebasan berpendapat. “Bagaimana Film Indonesia mau bagus kalau dibatasi?”

 Sekali lagi, “Bagaimana Film Indonesia mau bagus kalau dibatasi?”.
Itu cuma alasan produsen film Indonesia yang manja dan mesumnya nggak ketolongan.
Coba tengok, kenapa justru Novelis Indonesia yang dapat mendobrak prestasi film-film Indonesia dalam kancah yang lebih Panjang x Lebar = luas ?!

Tanpa bumbu-bumbu mesum seperti khas Hollywood atau film-film produksi luar negeri, Semerawood bisa menjadi lebih baik dan lebih berarti yang mengarah ke nilai-nilai moral milik bangsa! Bukan berarti lagi Semrawut (harapan kita semua tentunya)!
Kita bisa buat film yang lebih bermoral isinya ketimbang berisi adegan-adegan mesum yang bersifat komersil dalam negeri dan justru malah menghancurkan moral bangsa sendiri: Indonesia.

Realistislah, kita hidup di Indonesia memang nggak bisa sebebas di luar sana.
Memang sih rasanya terkekang, apalagi dengan pengekangan itu kita juga secara nggak langsung dituntut untuk hidup hidup kreatif dan inovatif tetapi tetap berpedoman dengan nilai moral yang sudah ada di Indonesia.

So, jadilah Semerawood yang mempunyai kepribadian ‘LOCAL GENIUS’*.
Maka tak hayal Semerawood bisa menjadi lebih indah di setiap kedipan mata pengamat film di dunia. Go for it Semerawood!

*) kecakapan suatu bangsa untuk menerima unsur-unsur kebudayaan asing dan mengolahnya sesuai dengan moral kepribadian bangsa itu sendiri.

 by: Arya Adikristya Nonoputra (Anggota Tim Mading divisi 2D)

2 gelar juara untuk kami divisi 2D dan 1 gelar juara untuk rekan kami dari divisi Mading Gerak, tapi sayang ada rekan kami dari 3D yang masih harus berjuang lebih keras dalam persaingan berikutnya. SEMANGAT!!!
- Best Mading 2D 3rd Place (Bronze)
- Top Ten Gold Mading 2D/3D (Gold)
- Big Five Silver Mading Gerak (Silver)

Inilah yang memenangkan hati dan perjuangan kami. Terima kasih atas seluruh dukungan dan partisipasi dari pihak yang terlibat di kompetisi ini. Tanpa kalian, kami tak kan bisa menjadi seperti sekarang ini. :)



Koordinator Tim Mading SMATRAMA divisi 2D
Ronald Argand Pinontoan
Orang terganteng sepanjang masa







































foto-foto lainnya AXIS MADING DET-CON 2K11

Arya Adikristya - Surabaya 21, November 2011



5 Arya Adikristya: Hollywood | Bollywood | Semerawood   "Biar minimalis, yang penting optimis" A:  "Dimana ada Hollywood, di situ ada Semerawood. Dimana ada Bollywood, di si...

4 comments:

Thanks for your lovely comment!

< >