03 September 2011

Susah, Senang, dan Suka

Susah, Senang, dan Suka: Mulai dari keberangkatan kami yang 'tidak direstui' hingga perploncoan ala TNI di Kota Batu, Jawa Timur. Rasakan apa yang kami rasakan, kami jamin, pengalaman dari kami pasti seru untuk kalian! #cumaaryayangbisa

***

Adalah bodoh ketika kami tidak mengkoordinasikan liburan lebaran dengan matang. Adalah cunguk ketika kami tidak memberi kepastian satu sama lain.
Meskipun bodoh nan cunguk, liburan lebaran kami still outstanding.

Keberangkatan yang 'tidak direstui'

1 September 2011 - Mendingan mati aja ketimbang mau berangkat buat senang-senang, tapi malah 'tidak direstui' oleh persiapan yang dikoordinir dengan matang dan banyak kejadian yang menguji mental kami. "Awal keberangkatan aja sudah tersendat-sendat begini, gimana buat selanjutnya, sepertinya liburan kita 'nggak direstui'. " keluh salah seorang dari kami.
Lama perjalanan yang kami tempuh dari Surabaya menuju Batu itu seharusnya 2 jam, eh tampaknya otak kami masing-masing menuntut berpikir secara realistis, kalau kami berangkat sore atau malam pada saat lebaran, sudah bisa dipastikan banyak jalur arus mudik yang padat merayap. Jadi deh, berangkat dari Surabaya jam 3 sore sampai di Batu jam 11 malam. #jancuk

Perploncoan ala TNI

Ceritaku sudah sampai di jam 11 malam bukan? Sekarang kembali sekitar 20-30 menit yang lalu, sekitar jam 22.30 di Perumahan GPA (Griya Permata Alam) daerah Karang Peloso, Batu.
Emang ada apa di jam 22.30? Ceritanya begini...
Segala macet yang padat merayap sudah kami lalui dengan sabar dan baik. Capek, ngantuk, mata berat itu otomatis kami rasakan. Masuk Perum GPA, dengan harapan segera istirahat di rumahnya si Ronald pun diundur, masih ada kejadian nahas sekaligus berkesan yang menimpa kami berdelapan (kecuali si Ronald). #asu
Karena kami orang awam di daerah itu, otomatis kami buta jalan. Apalah gunanya delapan mulut kami kalau nggak bertanya seorang satpam kesepian di sana mengenai alamatnya si Ronald.

Samuel : "Malam pak, alamat GPA blok QC dimana ya pak?"
Satpam : "Oh, masih masuk ke dalem lagi dek, sekitar 1 kilo lagi."

Tanpa banyak omong kami langsung masuk perumahan itu dalam-dalam, alhasil blok QC nggak ketemu sama sekali, alih-alih kami berdelapan malah tersesat di Perumahan yang terlihat mati itu.
Kami menepi, hendak menanyakan kebenaran alamat pada orang lain di sebuah pos. Semua mata kami menuju ke arah pos namun tidak mendapati adanya tanda-tanda nafas manusia di sana, karena tidak mendapati adanya orang di sana, kami melanjutkan perjalanan kami yang buta arah dengan guyonan ala remaja tentunya.
Belum sampai berjalan 10menit, mobil kami dihadang seorang TNI, sambil menodongkan pistol ke arah kami dan menendang mobil, dia menyuruh kami semua keluar dari mobil. Nggak ada kejelasan apa salah kami, STNK mobil si Samuel diminta dan kami disuruh datang ke pos sepi tadi kami lewati. Di pos itu ada sekitar 5-6 TNI lainnya yang sudah menunggu kehadiran kami. Di pos itu kami berdelapan dipelonco habis-habisan, ditendangi, disuruh jungkir-jungkir (bergulung ke samping), dimaki-maki, diceramahi, forum curhat, dan disuruh menyanyikan lagu "Bagimu Negeri".

Lirik yang benar:

Padamu negeri kami berjanji
Padamu negeri kami berbakti
Padamu negeri kami mengabdi
Bagimu negeri jiwa raga kami

Lirik versi kami berdelapan:

Padamu negeri kami berbakti
Padamu negeri kami mengabdi
Padamu negeri kami berjanji
Bagimu negeri jiwa raga kami#fail

Ah, Ih, Uh, Eh, Oh, sungguh malam yang mengesankan, jarang-jarang mendapat pengalaman seperti itu.
Kenyataannya adalah kami berdelapan tidak salah, kenapa?
Karena para TNI itu salah paham, dikiranya kami mengejek mereka tidak ada orang sambil tertawa, padahal kami hendak bertanya, namun tak nampak ada orang di pos tersebut.

Ini adalah salah satu bukti kurang terurusnya kebahagiaan para TNI yang (mungkin) terlupakan (di daerah pelosok). Mengabdi kepada negeri itu perlu asal jangan terlalu berlebihan, karena diri sendiri juga perlu pengabdian.

Suka-suka

Kembali lagi ke jam 11malam dong. Setelah jam 11 malam ini, nothing's so special. Kami berdelapan masih dihantui ketakutan kalau-kalau diikuti.

Suka-suka deh mau mikirin apa aja setelah kejadian itu, yang jelas, kita harus bisa berpikir, merasakan, dan bersikap secara realistis bahwa beginilah keadaan Indonesia sekarang. Guncang sana, guncang sini, bikin rancu bin ricuh. Apa yang bisa kita lakukan?

Padamu negeri kami berjanji
Padamu negeri kami berbakti
Padamu negeri kami mengabdi
Bagimu negeri jiwa raga kami















Surabaya, 3 September 2011 - Arya Adikristya (adk)
5 Arya Adikristya: Susah, Senang, dan Suka Susah, Senang, dan Suka: Mulai dari keberangkatan kami yang 'tidak direstui' hingga perploncoan ala TNI di Kota Batu, Jawa Timur. Ra...

No comments:

Post a Comment

Thanks for your lovely comment!

< >